Headphone Sebabkan Stroke Telinga
BAGI yang hobi mendengarkan lagu favorit dengan headphone, Anda mesti lebih berhati-hati. Sebab, ternyata bahwa penggunaan headset, headphone, atau MP3 player pada volume maksimal lebih dari 85 desibel (dB) lebih dari 5 jam per minggu akan menyebabkan tuli permanen.
Kehilangan pendengaran mendadak adalah suatu kondisi saat kita mengalami tuli sejenak. Ini berlangsung kadang-kadang dan akan segera pulih. Namun, bahayanya adalah bahwa jika ini terjadi terus-menerus maka akan menyebabkan tuli.
Tak hanya bagi penyuka musik, risiko ini juga berlaku pada pekerja yang bekerja di tempat bising, seperti pabrik dan polisi lalu lintas.
Seperti dikutip dari Health Medicals Sabtu (18/6), sebuah studi menunjukkan bahwa paparan kebisingan di atas 100 dB selama lebih dari 1 jam sehari dalam waktu lima tahun dapat menyebabkan seseorang untuk menderita kehilangan pendengaran permanen.
Sebenarnya ada beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan kondisi stroke pada telinga ini. Selain paparan suara keras secara terus-menerus, bisa juga disebabkan trauma, pukulan di kepala atau infeksi, dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Menurut situs Institut Nasional Gangguan Pendengaran dan Komunikasi, setiap tahun diperkirakan ada 4.000 kasus stroke pada telinga di Amerika Serikat. Gangguan ini dapat menyerang siapa saja, tapi yang paling banyak mengalaminya berusia 30-60 tahun.
Pasien stroke telinga sering keluhan tiba-tiba kehilangan pendengaran pada satu telinga atau keduanya. Selain itu, terkadang disertai dengan bunyi berdering di telinga dan pusing.
Setelah mengalami tanda-tanda ini, pasien semestinya segera mendapatkan perawatan medis agar diketahui jika penyebabnya sehingga pengobatan dini dapat dilakukan guna mencegah bahaya lebih lanjut.
Dalam kasus yang serius, satu-satunya cara adalah untuk membantu pasien adalah dengan alat bantu dengar. Memang tak dapat menyembuhkan hingga pulih 100 persen. Maka itu semenjak kini, sebelum terlambat sayangilah telinga kita. (Pri/ol-06)
Kehilangan pendengaran mendadak adalah suatu kondisi saat kita mengalami tuli sejenak. Ini berlangsung kadang-kadang dan akan segera pulih. Namun, bahayanya adalah bahwa jika ini terjadi terus-menerus maka akan menyebabkan tuli.
Tak hanya bagi penyuka musik, risiko ini juga berlaku pada pekerja yang bekerja di tempat bising, seperti pabrik dan polisi lalu lintas.
Seperti dikutip dari Health Medicals Sabtu (18/6), sebuah studi menunjukkan bahwa paparan kebisingan di atas 100 dB selama lebih dari 1 jam sehari dalam waktu lima tahun dapat menyebabkan seseorang untuk menderita kehilangan pendengaran permanen.
Sebenarnya ada beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan kondisi stroke pada telinga ini. Selain paparan suara keras secara terus-menerus, bisa juga disebabkan trauma, pukulan di kepala atau infeksi, dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Menurut situs Institut Nasional Gangguan Pendengaran dan Komunikasi, setiap tahun diperkirakan ada 4.000 kasus stroke pada telinga di Amerika Serikat. Gangguan ini dapat menyerang siapa saja, tapi yang paling banyak mengalaminya berusia 30-60 tahun.
Pasien stroke telinga sering keluhan tiba-tiba kehilangan pendengaran pada satu telinga atau keduanya. Selain itu, terkadang disertai dengan bunyi berdering di telinga dan pusing.
Setelah mengalami tanda-tanda ini, pasien semestinya segera mendapatkan perawatan medis agar diketahui jika penyebabnya sehingga pengobatan dini dapat dilakukan guna mencegah bahaya lebih lanjut.
Dalam kasus yang serius, satu-satunya cara adalah untuk membantu pasien adalah dengan alat bantu dengar. Memang tak dapat menyembuhkan hingga pulih 100 persen. Maka itu semenjak kini, sebelum terlambat sayangilah telinga kita. (Pri/ol-06)
Earphone Ganggu Pendengaran
Apa yang Anda lakukan jika Anda berada di dalam perjalanan? Perjalanan yang panjang dan lama mungkin akan membosankan, sehingga Anda berusaha mencari cara untuk menghilangkan rasa bosan tersebut. Ada yang mengatasinya dengan membaca, mengobrol, tidur, atau mendengarkan musik.
Teknologi kini sudah semakin canggih, terutama di bidang hiburan. Jika Anda ingin mendengarkan musik, sudah ada alat kecil yang mudah dibawa kemana-mana, mulai dari mp3, mp4, handphone, sampai ipod. Anda tinggal memasang earphone atau headphone ke telinga Anda, dan Anda bisa memilih dan mendengarkan lagu favorit.
Tapi tahukah Anda bahwa penggunaan earphone atau headphone terlalu lama, apalagi ditambah dengan volume musik yang kencang, bisa menyebabkan ketulian pada telinga Anda? Dr. Damayanti Soetjipto, Sp.THT-KL (K), spesialis THT dan ketua Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), mengatakan bahwa penggunaan ipod dan sejenisnya secara berlebihan dapat menyebabkan ketulian.
Ada kasus dimana seseorang yang mendengarkan ipod selama perjalanan dari Amerika menuju Jakarta dengan pesawat, mengalami ketulian sesampainya ia di Jakarta, dengan derajat ketulian 110 decibel(dB), padahal normal pendengaran kita adalah kurang dari 30 dB. Pengobatan hanya bisa mengembalikan pendengarannya menjadi 55 dB, yang masih termasuk dalam ketulian derajat sedang-berat, dan tidak bisa kembali ke pendengaran normal.
Selain penggunaan ipod secara berlebihan, ketulian bisa juga disebabkan oleh bising di mal. Dr. Damayanti mengatakan bahwa bising di tempat permainan anak-anak di mal cukup tinggi, yaitu 90-95 dB. "Ini berarti bahwa anak-anak tersebut hanya boleh berada di tempat tersebut sekitar 1-2 jam. Lebih dari itu akan terjadi kelelahan koklea (rumah siput) yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap," jelasnya.
Bising lalu lintas juga memiliki andil dalam penyebab ketulian. Bising di lalu lintas diakibatkan karena banyaknya kendaraan bermotor, tidak terawatnya mesin dan knalpot kendaraan bermotor tersebut, serta kerapnya penggunaan klakson. Intensitas suara yang dihasilkan dari bising lalu lintas ini adalah sekitar 80-88 dB, dan ini berarti seseorang maksimal hanya boleh berada dalam kebisingan ini selama 16-24 jam. Orang yang lebih beresiko terhadap kebisingan lalu lintas ini adalah polisi dan pengendara motor.
Selain itu, penyebab ketulian juga bisa berasal dari penggunaan alat-alat elektronik seperti radio yang volumenya terlalu keras, mesin pemotong rumput, blender, gergaji listrik, mesin-mesin bangunan, bahkan dering telepon. Itu semua mempunyai intensitas suara yang berbeda-beda dan maksimal penggunaan yang berbeda pula.
Jika batas waktu ini terlampaui, maka alat pendengar (koklea) dan rambut getar penerima suara akan mengalami kelelahan, rusak, dan tidak dapat kembali normal.
Selain karena bising, ketulian juga bisa disebabkan oleh faktor usia (presbikusis), kotoran telinga (serumen), dan tuli sejak lahir (kongenital). Tuli sejak lahir bisa terjadi akibat mudahnya mendapat obat keras saat kehamilan, kurangnya pengetahuan dan penyakit yang terjadi saat hamil, dan sebagainya.
Korek Telinga Membahayakan
google.com/image
Jangan terlalu sering mengorek kuping karena cairan dalam selaput telinga akan hilang. Padahal cairan itu melindungi gendang telinga dari bakteri.
Dr Peter Roland dari Universitas Texas, Dallas, AS, meneliti 100 orang yang mengorek kuping selama seminggu. Sebagian dari mereka melakukan kegiatan itu selama dua kali dalam sehari, sedangkan lainnya melakukannya selama tiga kali dalam seminggu.
Hasil penelitian menunjukkan mereka yang sering mengorek telinga, akan terganggu pendengarannya karena masuknya bakteri ke gendang telinga. Sebaliknya, mereka yang jarang melakukannya tidak mengalami gangguan pendengaran.
"Cairan dalam selaput telinga melindungi gendang telinga dari bakteri. Selain itu cairan juga meredam suara kencang dari luar," ujar Roland.
Roland juga mengimbau agar tidak menggunakan korek telinga (cotton bud)dari kapas. Karena kapas mudah menyerap cairan telinga tersebut.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar